Orgy Onani atas Gugatan Tanggung Jawab Kepenyairan

Mei 20, 2011 § Tinggalkan komentar

Surat Terbuka M.D. Atmaja untuk Nurel Javissyarqi Pengelana Dari Lamongan
Jurnal Biro Khusus-Sarekat Sastra Indonesia

Sebelum memulai, perkenankanlah untuk menghaturkan beribu maaf yang bergelombang tinggi seperti tsunami untuk menghapus dosa yang mungkin tercipta dan berserak di atas dataran tubuh. Surat terbuka ini tidak bermaksud apa pun, selain membela diri, bukankah pembelaan diri yang tertindas adalah jihad yang diharuskan. Sebab, perlawanan atas penindasan pola pikir itu sebagai awal dari jati diri manusia yang masih memiliki harga diri. Berangkat dari rasa sayang dan cinta, kini saya pun berlenggang menghadapi kawan sendiri, Nurel Javissyarqi Pengelana Dari Lamongan Penulis Kitab Para Malaikat sekaligus Pemilik Pustaka Pujangga.

Lahirnya surat ini tidak lantas menjadikan saya sebagai pendukung Sutardji Calzoum Bachri, penyair yang menurutmu tidak bertanggung jawab. Namun sebatas catatan kecil untuk sikap yang sudah membawa diskusi pribadi ke tengah publik. Memang benar, saya mengatakan kalau tulisan saudara yang berjudul “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutarji Calzoum Bachri” tidaklah sistematis. Tentu itu bisa dijelaskan, dengan berbagai realitas yang mungkin tidak tersadari, sebab saudara Nurel Javissyarqi Pengelana Dari Lamongan juga si Keris Empu Gandring baru saja “dari alam gelap” (MTKSCB, 2011: 37).

Saya sungguh tidak mengerti, tidak menyangka kalau perbincangan pribadi itu menjadi bahan untuk ber-orgy di tengah medan yang saya kira belum saudara pahami. Ada beberapa kejanggalan dalam penulisan pengantar yang saudara sebut dengan “Mulanya” sebab di sana komentar itu tidak penuh, memplintir dan mencari sesuatu yang bisa menjunjung tinggi nama Nurel Javissyarqi Pengelana Dari Lamongan si Keris Empu Gandring. Satu halaman lebih sedikit (halaman 12 dan 13) saudara gunakan untuk beronani, memanjakan diri berteman kenikmatan dan segumpal nafsu birani yang sungguh tidak terbendung. Benarkah bisa mengudar diriku dari “kejiwaan, filosofinya, dan terserah?” (MTKSCB, 2011: 13). Ah, masak iya sementara novelku saya belum pernah kamu baca. Seringkas itu, dengan bahasa semudah itu namun masih saudara mengatakan ketidak-mengertian?

Coba telisik kata-kata ini: Ada cermin di belakang punggungmu, ada semut di depan hidungmu, ada kotoran di seberang lautan yang kau bidik dalam syahwat pujian. Saranku, berbaliklah, temukan diri pahami, kemudian berterima kasihlah.

Sudahkah bisa menemukan kejiwaan dan filosofinya?

Saudara Nurel Javissyarqi Pengelana Dari Lamongan si Keris Empu Gandring yang terhormat, tadi saya mengatakan soal ketidak-sistematisan penulisan buku itu, mungkin juga menandakan ketidak-sistemasian dalam berpikir, kerancuan berpikir.

PERTAMA, apa yang sebenarnya saudara tulis dalam buku terbaru itu? Apakah benar-benar menggugat tanggung jawab kepenyarian SCB? Lantas kenapa menjadi analisis puisi mantra? Apakah pengetahuan yang saudara miliki “dari referensi olah rasa dan daya lain yang terkandung dalam diri, pula perpustakaan pribadi” (MTKSCB, 2011: 13) tidak bisa menemukan bahwa mantra yang saudara jamah sebagai bagian dari estetika puisi? Kalau hanya ingin menggugat tanggung jawab yang SCB ketengahkan dalam “Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair” maka berkutatlah di sana saja. Tidak perlu meloncat-loncat dari dahan ke dahan lain. Apakah ini “loncatan pikiran” itu yang menandakan ketidak sistematisan dalam berpikir?

KEDUA, menyangkut pendeskripsian yang menurut saya tidak terarah. Berputar-putar seperti gasing dengan istilah-istilah yang luar biasa rumitnya. Apakah hidupmu hanya untuk memperjuangkan istilah itu, Saudara Nurel Javissyarqi si Keris Empu Gandring? Membicarakan masalah bahasa mau tidak mau membicarakan masalah komunikasi. Bukankah komunikasi yang baik adalah komunikasi yang dimengerti semua orang? Atau jangan-jangan, buku itu saudara Nurel Javissyarqi Pengelana dari Lamongan buat, khusus untuk diri saudara sendiri, sehingga, terserah orang mau memahami atau tidak.

KETIGA, Metodologi penulisan. Saudara sudah memasuki wilayah kritik sastra dan dalam dataran ini dibutuhkan adanya metodologi penulisan, baik untuk menulis maupun untuk membaca (analisis) bahan.

KEEMPAT, Posisi saudara sebenarnya dimana? Berusaha mematahkan perpuisian mantra dan ingin menggantikan dengan Kitab Para Malaikat (2007) milikmu itu? Setelah kau sebut sebagai sumber bandingan atas kebenaran yang belum teruji. Ah, ini seperti penjual di pasar yang mengatakan kalau penjual ikan di samping jelek, yang terbaik hanya ikan yang dijual sendiri. Ah, lagi-lagi memasuki dunia politik sastra. Apakah ini, politik sastra tujuan Saudara Nurel Javissyarqi Penulis Kitab Para Malaikat?

 Banyak hal yang ingin sekali saya utarakan di sini. Namun waktu membatasi diri untuk menghujat orang lain. Sedikit merenung, sedikit belajar, sedikit membatasi diri adalah yang saya kira terbaik untuk diri. Saya tidak memiliki guru yang bisa saya sebut-sebut seperti saudara Nurel Javissyarqi si Keris Empu Gandring.

Membicarakan masalah mantranya SCB hampir sama dengan membicarakan KPM punya saudara Nurel Javisyarqi. Seorang kritikus sastra akan lebih memandang keseluruhannya sebagai estetika puisi, suatu bentuk yang menjadi kekhasan bagi sastrawan tersebut. Apakah salah ketika bersemboyan: ini mantra, ini kitab, atau ini hanya orgy onani?

Saya hanya bisa tersenyum kasihan, ketika saudara sampai meminta bantuan roh-roh, segitunya untuk membuka tabir misteri perpusian mantra SCB. Semisal saya sendiri tidak perlu meminta bantuan roh, hanya cukup bercakap dengan Kakang Gathak dan Dhimas Gathuk sambil menikmati kopi dan rokok Klembak Menyan. Akan saya terjemahkan dari struktur sampai bunyi dengan lebih jelas, ketimbang apa yang sudah saudara keluarkan. Pun, bersama dengan Kakang Gathak dan Dhimas Gathuk, saya juga bisa membuat Kitab Para Malaikat yang saudara Nurel Javissyarqi banggakan, menjadi remah-remah kecil untuk di sapu dan dilempar ke tong sampah.

Pahamilah surat terbuka ini, kawan. Dan coba simaklah Kitab Para Malaikat, sebab salah satu tanggung jawab penyair adalah melakukan apa yang sudah dikatakan melalui karyanya. Apakah seluruh kebijaksanaan di Kitab Para Malaikat sudah saudara Nurel Javissyarqi si Keris Empu Gandring pahami? Kalau sudah, tentu kebijaksanaan itu akan nampak dalam perilaku. Dan kalau ternyata belum, maka saudara bukanlah penyair yang bertanggung jawab. Untuk mengakhirinya, saya mengucapkan terima kasih. Saya juga ingin berpesan, silahkan saudara Nurel Javissyarqi Penulis Kitab Para Malaikat memahami karya sendiri, terlebih Kitab Para Malaikat. Selamat siang, selamat hari Kebangkitan Nasional dan selamat meloncat-loncat dalam pikiran.

StudioSDS – Bantul, 20 Mei 2011

Iklan

Belajar dari Ketragisan Bandung Bandawasa

Mei 7, 2011 § Tinggalkan komentar

Esei M.D. Atmaja

Kemegahan candi Prambanan di perbatasan Yogyakarta Timur masih menyisakan kemegahan dan misteri. Di tempat itu juga menyimpan kronik sejarah yang dapat dijadikan bahan ajar untuk kita, manusia Indonesia. Prambanan sebagai simbolisme perjuangan melawan kesewenangan kekuasaan yang didorong keserakahan nafsu dan ambisi manusia. Juga mengenai peliknya perjuangan cinta yang disertai hujan air mata yang menderas darah dan berakhir dengan penghianatan. Lalu apa yang musti kita pelajari dari sana?“Ya sejarah, Kang! Berkisar tentang bagaimana kentalnya feodalisme manusia Jawa.” Ucap Dhimas Gathuk yang langsung menerobos ketika saya belum sempat menjelaskan apa pun.

Sejarah? Memang demikian, mengenai sejarah manusia Jawa yang secara khusus mengenai pergolakan sosial politik kerajaan Jawa. Ketika kita menyatakan, “kerajaan feodalnya Jawa” justru memberikan kesan negatif. Pun, sebelum pembicaraan ini dimulai. Tentu saja, kesan negatif untuk manusia Jawa dan feodalisme itu sendiri. Akantetapi, dalam kesempatan ini marilah kita berpikir subjektive untuk tanpa menghakimi, dengan berusaha melihat manusia dan feodalisme sebagai suatu kesatuan. Keberadaan manusia dan feodalisme sebenarnya memiliki nilai positif, meskipun orang-orang Bolshevik terus bersikukuh kalau kehidupan manusia tanpa feodalisme adalah kehidupan yang lebih baik. Suatu impian, bahwa negara digerakkan oleh kekuatan dan kekuasaan rakyat. Toh, dalam struktur pemerintahannya pun, akan tetap menghasilkan feodalisme.

Inti dari sistem feodal tidak hanya mengacu pada tuan tanah, maupun penggolongan manusia borjouis dan proletar. Lebih jauh dari itu semua, feodalisme memiliki hakekat mengenai kepemimpinan di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam negara demokrasi, kapital sampai dengan komunis, sistem feodal masyarakat akan terus ada. Pandangan ini karena meninjau dari segi esensi mengenai feodalisme itu sendiri yang berupa: nilai kepemimpinan. Manusia yang hidup berkelompok, harus ada, salah seorang dari anggota manusia yang maju sebagai pemimpin. Perlu dijadikan bahan perbincangan kali ini adalah bersangkutan dengan nilai kepemimpinan; kepemimpinan yang seperti apa? Mestikah seorang agamawan muncul sebagai pemimpin?

Menurut saya, percuma juga ada kepemimpinan jikalau berbagai penindasan – yang secara langsung maupun tidak langsung,  dan ketidak-adilan terus ada untuk menyiksa manusia yang ada di dalam kelompok masyarakat tersebut.

Pasti, orang yang memimpin adalah orang yang memiliki kekuasaan, sebab salah satu pendorong terlaksananya suatu kepemimpinan adalah aspek kekuasaan. Manusia yang memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, jika tidak memiliki kekuasaan tidak bisa menjalankan kepemimpinan yang dimiliki.

“Tapi bisa memimpin dengan memberikan contoh, menjadi teladan dengan memimpin dirinya sendiri!” sahut Kangmas Gathak yang kelihatannya sudah mulai gerah.

Itu idealnya, dan terkadang tidak menjadi alternatif dalam dunia perpolitikan suatu negara yang membutuhkan adanya kekuasaan dan pengakuan. Kepemimpinan sebagai kekuasaan, yang mana memiliki sifat melindungi, menjadi pengayom manusia yang dipimpin, melindungi kehormatannya sendiri sebagai pemimpin, menegakkan keadilan, dan serta mewujudkan kehidupan yang selamat.

Prabu Damar Maya sebagai simbolisme kepemimpinan dan kekuasaan kerajaan Pengging. Ketika kerajaan mendapati suatu ancaman dari Prabu Baka yang ambisius akan kekuasaan, Prabu Damar Maya bertindak. Damar Maya dengan sekuat tenaga melindungi wilayah kerajaannya, yang secara tidak langsung sebagai proses perlindungan terhadap seluruh rakyat yang ada di wilayah itu. Perlu kita ingat, kalau kerajaan Pengging adalah kerajaan ideal, yang mana kehidupan rakyatnya dijalankan dengan penuh keadilan, makmur, tentram dan sentosa. Wilayah Pengging sendiri adalah wilayah yang subur, kekayaan berlimpah ruah yang akhirnya menjelma sebagai godaan yang terus merayu Prabu Baka untuk menguasai.

Hal yang sungguh lumrah, sikap yang dimunculkan oleh Prabu Baka. Karena, meskipun Prabu berwujud Raksasa tetap memiliki sifat alamiah manusia, tidak pernah puas walau sudah memiliki satu kerajaan. Dalam kisah ini, Prabu Baka hadir sebagai simbol dari kejahatan, pemerintahan yang korup dan sewenang-wenang, tidak mampu menjalankan sistem kekuasaan untuk melindungi rakyat Baka. Karena kepemimpinan yang lemah dari kekuasaan Baka, rakyat pun tidak terlindungi bahkan dari diri Prabu itu sendiri.

“Itu artinya, pemimpin seperti Prabu Baka itu orang lemah. Sikapnya itu tidak mencerminkan kekuasaan yang dimiliki.” Ungkap Kangmas Gathak sambil merokok.

“Heh? Mosok seorang Prabu tidak memiliki kekuasaan, Kang?” sahut adik kami, Dhimas Gathuk.

“Kekuasaan itu melindungi yang dikuasai. Melindungi dari berbagai ancaman yang dapat membuat rakyat – atau yang dikuasai, itu menderita. Melindungi sekuat tenaga dan upaya, bahkan melindungi dari diri sendiri. Berani untuk mengorbankan kepentingannya sendiri demi keberlangsungan kebahagiaan orang-orang yang dikuasai. Itu, baru namanya kekuasaan.” Kangmas Gathak menjelaskan.

Dalam konteks ini, memang benar apa yang sudah dijabarkan Kangmas Gathak, hakekat dari kekuasaan adalah perlindungan dan kepemimpinan. Memimpin yang juga berarti melindungi, sebab nasib seluruh manusia yang ada di bawah kekuasaannya bergantung dari bagaimana pemimpin itu menjalankan fungsinya. Jikalau ada pemimpin yang tidak melindungi, sama halnya kita dipaksa untuk masuk ke dalam api. Kepemimpinan yang tidak melindungi sama halnya dengan pembinasahan, pembantaian dan itu bukan esensi dari kepemimpinan dan kekuasaan.

Manusia yang tidak mampu melawan dirinya sendiri dapat dipandang sebagai sebagai manusia lemah, sebab tidak mampu menguasai (memimpin) dirinya sendiri. Lantas, bagaimana bisa diandalkan untuk memimpin orang banyak?

Prabu Damar Maya beraktivitas dalam rangka menjalankan sistem kepemimpinannya, bertindak menghalau invansi Prabu Baka. Bersebab itu, Prabu Damar Maya mengutus anaknya sendiri, Bandung Bandawasa untuk berperang. Maju dan mempertaruhkan nyawa demi keselamatan rakyat Pengging dari kekuasaan Prabu Baka yang merusak. Sebab, dalam cerita ini digambarkan mengenai hasil dari kekuasaan yang merusak yang disimbolkan melalui kerajaan Baka. Diceritakan, rakyat Baka mengalami kesengsaraan karena dipaksa mengikuti nafsu rajanya ketika berambisi menaklukkan Pengging.

Dari fenomena ini dapat kita lihat bagaimana peran Prabu Baka yang tidak mampu menjadi pemimpin, toh walau memiliki kekuasaan. Dan ketika ada seorang pemimpin yang hidup enak, berlimpah, bahagia, bahkan menjadi tambah gemuk, namun kondisi rakyatnya kembang kempis, sehari makan lalu sehari tidak makan, maka pemimpin seperti ini bukanlah seorang pemimpin. Dia adalah Prabu Baka yang menitis dalam diri pemimpin.

“Walau pemimpin itu mendapatkan wahyu keprabon?” sahut Dhimas Gathuk dengan cepat.

Seperti itu.

“Walau sudah terbukti dua kali mendapat wahyu keprabon?” sahut Dhimas Gathuk yang berusaha mempolitisir perbincangan untuk menunjuk hidung panjang seorang pemimpin yang pernah operasi tahi lalat.

“Hahaha…” Kangmas Gathak tertawa saja.

Meskipun Tuhan Semesta Alam telah menunjuk seseorang itu menjadi pemimpin, tidak lantas seorang Prabu berhak untuk menjalankan pemerintahan dengan sewenang-wenang. Membiarkan rakyat yang dititipkan Tuhan Semesta Alam untuk jatuh di dalam penderitaan sama halnya dengan menghina kemudian menantang pemilik rakyat itu, yang juga pemilik kekuasaan yang sebenarnya: Tuhan. Perlu kita memahami, bahwa kepemimpinan yang dititipkan Tuhan Semesta Alam adalah kepemimpinan yang berhati nurani, bukan bernafsu naluri. Ibaratnya, meskipun seorang Prabu harus mati, hal yang terpenting adalah keselamatan rakyatnya.

“Ah, si Bandawasa memang menang dalam peperangan, tapi dia juga kalah.”

Itulah permasalahan mengenai kekuasaan!

Bandung Bandawasa memang sudah memenangkan peperangan, pun akhirnya dengan sendirinya mendapatkan kekuasaan. Kekuasaan atas wilayah dan kerjaan Baka yang sudah berada di bawah kakinya. Sampai akhirnya, Bandung Bandawasa menemukan perempuan cantik, langsing dan cantik bernama Rara Jonggrang. Melalui pertemuan ini, Bandung Bandawasa merasa mendapatkan giliran untuk menguasai kekuasaan, yang secara tidak langsung menempati posisi Prabu Baka yang sudah dikalahkan.

Lagi-lagi, manusia yang berkuasa berusaha memanfaatkan kekuasaan itu untuk memenuhi hasrat diri yang termanifestasikan ke dalam simbol, yaitu Rara Jonggrang itu sendiri. Saya membaca bahwa keberadaan Rara Jonggrang merupakan pengejawantahan dari hasrat manusia. Yang mana selalu menginginkan hal yang indah, menyenangkan, dan tentu saja nikmat. Aspek ini merujuk pada keinginan akan kesenangan duniawi, yang mana kecantikan Jonggrang memancar dari tubuh (duniawi) yang ditangkap oleh pandangan (baca: ranjau hawa nafsu) Bandung Bandawasa.

Bandung Bandawasa berhadapan dengan keinginannya sendiri, untuk menikahi (baca juga: menikmati) kecantikan Jonggrang yang menggiurkan dan menggairahkan. Untuk mencapai hasrat itu, Bandung Bandawasa dihadapkan pada dua syarat yang harus terpenuhi dalam rangka mendapatkan kenikmatan duniawi. Pertama, mengenai pembuatan Sumur Jalatunda yang mana dapat dipahami sebagai lubang gelap dari keinginan (nafsu) manusia yang menjebak. Seperti ketika Bandawasa memasuki sumur Jalatunda, langsung dikubur oleh Patih Gupolo atas perintah Jonggrong. Bandawasa sadar bahwa dirinya telah dipermainkan namun masih saja terbujuk hawa nafsu untuk membuat seribu candi, sebagai persyaratan yang kedua. Seribu candi yang diinginkan Jonggrang dapat kita maknai sebagai seribu keinginan manusia.

“Kenapa Jonggrang harus curang yang jutru membuat seribu candi tidak selesai?” Kangmas Gathak dan Dhimas Gathuk bersepakat menanyakan hal yang sama.

Inilah, penghianatan dari bujuk rayu keinginan (nafsu) manusia. Bandawasa hanya bisa menyelesaikan 999 buah candi, karena keinginan manusia tidak pernah selesai sehingga Jonggrang menyiasati agar tidak genap seribu. Kalau misalkan saja sudah genap seribu candi, berarti keinginan manusia telah selesai, namun sifat dari keinginan manusia itu sendiri tidak pernah selesai sampai mati, sehingga sikap Jonggrang dapat kita pahami. Keadaan ini nampaknya disadari Bandung Bandawasa yang menyelesaikan keinginannya dengan merubah Rara Jonggrang menjadi candi yang keseribu. Artinya kesenangan (hawa nafsu) harus dibunuh untuk mencapai kekuasaan yang sebenarnya, karena sebelum keinginan manusia itu mati, tidak akan mencapai kekuasaan yang sebenarnya, bersebab diri manusia itu sendiri masih dibawah kekuasaan hawa nafsu (keinginan).

“Nah, itulah yang dipesankan Nabi, bahwa memerangi hawa-nafsu, diri manusia sendiri adalah perang terbesar setiap manusia.” Sahut Kangmas Gathak dalam senyuman bangga.

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, Kamis Pon, 11 Maret 2011

Masyarakat, Laboratorium Pendidikan Berdasar pada Nilai-nilai Islam

Mei 7, 2011 § Tinggalkan komentar

Oleh: Ilham Dwi Ridlo Wancoko

“Belajarlah sampai ke negeri Cina”

Kalimat di atas tidak hanya berarti belajar ke negeri Cina, akan tetapi juga menunjukkan sebuah ketotalan dalam belajar, maksudnya dengan berusaha semaksimal mungkin untuk pendidikan, tentu saja sebuah usaha yang maksimal akan lebih bermanfaat dari pada belajar sekenanya, dan pasti lebih di ridhoi oleh Allah swt. Dalam sebuah coretan ini, saya mencoba untuk memberikan sebuah pendapat dan mengasah niat, daya dan upaya sebagai umat, ada kemungkinan ini telah dilakukan guru-guru dan seluruh perangkat berpengalaman di sekolah-sekolah di Indonesia yang terhormat ini dan semoga semua yang menyumbangkan tenaga, pikiran dan waktunya di sekolahdan dunia pendidikan d ridhoi Allah SWT.

Sebagai sebuah awalan saya akan utarakan pemahaman saya yang dangkal ini, menurut saya, pendidikan bukan hanya untuk kecerdasan individu akan tetapi untuk seluruh masyarakat, karena itu sebuah sekolah jika hanya bersifat teoritis tanpa berusaha semaksimal mungkin untuk bermanfaat bagi masyarakat, secara tidak langsung maupun langsung akan mendidik setiap anak atau siswa untuk memiliki sifat egois dan eksklusif, karena tidak pernah merasakan kegetiran masyarakat yang dianggap kurang beruntung ataupun sudah lupa akan apa yang pernah dirasakan sebagai bagian dari masyarakat yang dianggap kurang beruntung, seperti halnya sekolah-sekolah berbayar yang mahalnya membuat setiap siswanya merasa sombong.

Tidak lupa pula hal yang paling penting dalam setiap sendi kehidupan adalah merangkai nilai-nilai islami dalam setiap bidang keilmuan, maksudnya adalah Islam dengan pedoman Al-Quran adalah sumber dari semua ilmu, maka dengan itu akan kurang bijak bila setiap bidang keilmuan tanpa diperjelas hubungannya dengan Islam dan Al-Quran. Melalui dasar tersebut, sebuah coretan ini dituangkan, sebuah sekolah adalah rumah, sebuah rumah tentu memiliki tetangga, tetangga haruslah dihormati, maka dari itu, konsep “masyarakat sebagai laboratorium pendidikan berdasar pada nilai-nilai Islam” mencoba untuk menjadi salah satu jalan untuk mampu memberdayakan siswa dalam membangun masyarakat. Bayangkan bila sejak kecil anak sudah diajarkan untuk membantu sesamanya dan paham serta menjalankan  nilai-nilai agama yang menjadi sumbernya untuk masyarakat, tentu akan menjadi generasi yang dapat merubah kondisi sosial masyarakat yang saat ini telah berjalan ke arah kerusakan di seluruh sendi-sendi kehidupan ini.

Laboratorium pendidikan

Pendidikan selama ini berfokus pada pendalaman materi setiap mata pelajaran yang berfungsi untuk memperdalam dan kemudian dianggap mampu mengetahui kemampuan mereka melalui ujian atas materi yang anak didik dapat, tetapi kekurangan dari gaya konvensional ini adalah dasar dari penilaian itu hanya pada asumsi, bahwa pemahaman mereka telah sampai pada tujuan yang diinginkan yaitu mampu mengerjakan soal-soal, akan tetapi apakah akan membuat anak menggunakannya untuk membantu sesamanya? Itu belum terjawab sampai saat ini, apalagi ini hanyalah berdasar pada asumsi guru pada kemampuan anak didik dalam memahami materi. Lalu apakah hal ini mampu dijadikan sebagai dasar pendidikan yang harus bermanfaat dan untuk meningkatkan martabat manusia?

Dalam konteks ini pendidikan tidak bertitik tolak pada nilai akan tetapi pada bagaimana setiap teori yang anak didik dapat diusahakan semaksimal mungkin untuk benar-benar diimplementasikan di dalam masyarakat, salah satu cara dalam hal ini adalah laboratorium pendidikan, yang dimana setiap kelas memiliki sebuah laboraturium untuk mengimbangkan antara landasan teori dengan penerapan, laboraturium ini tidak di pahami sebagai laboraturium biasa, seperti laboraturium ilmu-ilmu eksak akan tetapi  laboratorium itu adalah masyarakat, maksudnya adalah setiap bidang keilmuan di usahakan secara maksimal untuk diterapkan dimasyarakat untuk menyelesaikan permasalahan yang di temui oleh masyarakat, jadi setiap bidang keilmuan di bagi dua pertama kelas itu sendiri dan laboratoriumnya.

Praktisnya, kelas dengan tujuan memberikan pemahaman dan dapat menguasai bidang keilmuannya akan tetapi mengerti pula secara nilai-nilai dan hukum-hukumnya secara Islam, untuk laboratoriumnya menerapkan setiap teori yang ada dengan pertimbangan nilai-nilai dan hukum agama yang telah dipahami untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi masyarakat. Untuk mempermudah maka pembagiannya terdapat 4 kelas, yaitu kelas ilmu sosial, kelas ilmu alam, kelas bahasa dan kelas agama Islam. akan tetapi ini bukan sebagai batasan, ini hanya sebagai salah satu contoh agar lebih mudah dan akan lebih baik dikembangkan dalam berbagai bidang keilmuan atau kelas yang dibutuhkan, bila kelas sosial maka memiliki laboratorium yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial yang terkait dengan bidang keilmuannya akan tetapi di dasari oleh nilai-nilai agama. Kelas ilmu alam tentu memiliki laboratorium yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat yang berhubungan dengan ilmu tersebut, begitu juga dengan kelas bahasa, untuk kelas agama Islam tentu ini akan menjadi dasar dan ruh dari setiap bidang keilmuan yang kemudian diakamodir oleh setiap bidang keilmuan atau kelas yang mewakilinya.

Sebagai sebuah percontohan:

Percontohan dalam empat kelas yaitu kelas sosial,  kelas ilmu alam, kelas ilmu bahasa dan kelas ilmu agama Islam.

Keempat kelas ini sebagai bidang keilmuan telah terbagi dalam berbagai bidang, akan tetapi sebenarnya semuanya saling berkaitan, karena bidang apapun yang telah di kembangkan memiliki sejarah hubungan keilmuan, yang juga berakhir pada penggabungan dari setiap ilmu yang ada untuk membuat sebuah karya baik sosial, teknologi maupun bahasa, semua itu tentu didasari oleh nilai-nilai Agama Islam. Dengan pemahaman itu maka sebenarnya dalam kompetisi dunia global kemampuan untuk ahli dalam satu bidang tidaklah cukup maka sejak dini mungkin akan jauh lebih baik bila mana setiap bidang yang ada telah diperkenalkan dengan mendalam.

1. Kelas dan laboratorium ilmu sosial

Ilmu sosial bersifat dinamis mempelajari tentang seluruh kegiatan yang dilakukan oleh manusia dari proses komunikasi sampai paling mendasar yaitu ilmu psikologi, setiap bidang tentu sangat berhubungan, sehingga kelas ilmu sosial bertujuan untuk memahami dan menguasai ilmu sosial sedangkan, laboraturium ini bertujuan mengaplikasikannya, laboratorium ilmu sosial ini seharusnya berbentuk sebuah kelompok studi ataupun pembelajaran dari sebuah rangkaian pristiwa-pristiwa sosial sekaligus mencoba untuk mempengaruhinya, jadi laboratorium ilmu sosial ini bukanlah sebuah tempat akan tetapi sebuah cara untuk mengimplementasikan ilmu sosial yang telah didapat, studi kasusnya saya ambil lokalisasi, berhubung kawasan ini sangat dekat dengan lokalisasi maka pristiwa atau masalah sosial ini bisa menjadi laboratorium dari kelas ilmu sosial, semisal dengan mempelajari bagaimana efek lokalisasi terhadap remaja yang tinggal di sekitar lokalisasi. Bentuk awalnya adalah sebuah pembentukan kelompok remaja yang memiliki identitas yang sama yaitu berada atau tinggal di kawasan lokalisasi, kemudian mulailah menerapkan teori-teori yang telah diperdalam dikelas, semisal ilmu psikologi, bagaimanakah tanggapan mereka tentang pekerja tuna susila ini, bagaimana mereka memandang pekerjaan abnormal ini dan bagaimana respon sehari-hari mereka terhadapnya, sekaligus memulai sebuah pengobatan yang berdasar dari efek-efek yang diterima atau yang di alami oleh remaja di sekitar lokalisasi tersebut. Tentu saja, ini sangatlah dinamis, menggunakan trial and error sebagai kuncinya, dengan kata lain percobaan menggunakan teori-teori yang berbeda bila mana teori itu telah tidak efektif digunakan untuk mempengaruhi atau mengobati serangkaian efek dari masalah sosial tersebut. Semua itu tentu harus didasari dengan pemahaman nilai-nilai agama.

Untuk memahami pristiwa atau masalah sosial tentu kita harus melakukan sebuah penelitian yang kontinyu, kontiyuitas inilah yang menjadi dasar bahwa sebuah kelompok sosial diperlukan, bisa dengan membentuknya atau justru memanfaatkan kelompok sosial yang telah ada. pasti ada berbagai hambatan yang akan terjadi, untuk pembentukan kelompok sosial hambatan yang dapat diprediksi adalah tidak adanya niatan awal dari sang obyek untuk membentuk kelompok sosial sehingga kepedulian mereka akan sangat kurang. Untuk pemanfaatan kelompok sosial yang telah ada, hambatan yang bisa di predikasi adalah akan goyahnya nilai-nilai yang telah mapan dalam hubungan sosial mereka karena akan berbenturan atau mungkin melebur dengan nilai-nilai yang akan di tawarkan oleh laboratorium sosial ini dalam kerangka implementasi teori-teori sosial yang sedang digunakan. Dengan itu maka perlu ada sebuah respon yang berdasar pada fakta adaptasi sosial yang dilakukan oleh kelompok sosial yang telah ada sebelumnya tersebut.

2. Kelas dan laboratorium ilmu alam

Ilmu pasti ini tentu sangatlah berbeda dengan ilmu sosial akan tetapi memiliki hubungan yang sebenarnya sangat kuat, untuk tujuannya kelas ilmu alam lebih pada memahami dan menguasai, sedang laboratoriumnya untuk mengimplementasikan pada masyarakat. hubungan tersebut adalah bagaimana caranya ilmu ini mampu menjawab masalah-masalah yang di hadapi masyarakat. Ilmu pasti atau eksak ini lebih kepada membuat sebuah produk tekhnologi yang berdasar pada kebutuhan sosial masyarakat dan nilai-nilai agama, maksudnya pembuatan tekhnologi ini dipertimbangkan dengan dasar kebutuhan sosial masyarakat dan yang paling penting pertimbangan dasar secara agama islam merunut pada nilai-nilai agama islam.

 Semisal dengan adanya kawasan lokalisasi maka apa yang sebenarnya bisa di lakukan oleh bidang keilmuan ini untuk mengurangi dan bahkan menghentikan masalah sosial ini, tentu saja perlu komunikasi antar laboratorium dari setiap kelas yang ada untuk menentukan apa yang akan di buat, sebagai gambaran awal untuk perkenalan terhadap individu yang terlibat masalah sosial ini mungkin akan lebih baik saat pada awalnya membuat alat sederhana untuk mendeteksi penyakit-penyakit kelamin, tentu saja dengan kemampuan yang sesuai dengan laboratorium ini, dengan alat tersebut tentu pengawasan dan juga kesehatan akan terjaga dan sangat menguntungkan kedua belah pihak sehingga kepercayaan serta kedekatan hubungan sosial telah terjalin. Sehingga hubungan selanjutnya akan dapat lebih baik dengan dasar kepercayaan.

3. Kelas dan laboratorium ilmu bahasa

Kelas bahasa bertujuan agar siswa atau anak didik menjadi ahli dalam bidang bahasa dengan rajutan nilai-nilai agama, sebagai dasar dari bahasa itu sendiri, seperti halnya Al-Quran, bahwa bahasa menjadi alat untuk memberikan nilai-nilai religius, agama dan manfaatnya, maka dari itu bila di kelas adalah teori dari bahasa seperti kosa kata, grammer dan pengucapannya, maka laboratorium bahasa bukan lagi memperdalamnya akan tetapi justru mengimplementasikannya yang secara otomatis juga memperdalam dengan rajutan nilai-nilai tadi, sehingga saat laboratourium bahasa melakukan penelitian bahasa dimasyarakat, maksudnya adalah meneliti perkembangan, perubahan dan perbaikan dari bahasa, kemudian membuatkan sebuah produk bahasa seperti jurnal, karya sastra atau biografi untuk masyarakat, apalagi jika ditujukan untuk kaum marginal, mungkin kelak bisa menjadi pusat studi bahasa untuk SMU.

Melanjut pada laboratorium bahasa maka, caranya yang paling praktis adalah membuat sebuah komunitas bahasa dari masyarakat, yang terdiri dari berbagai elemen lalu meneliti bagaimana perbedaan pemahaman, kosakata dan penggunaan setiap bahasa dalam dari hari ke hari yang diambil dari generasi-kegenerasi, maksudnya antara orang tua dan anak pasti memiliki perbedaan bahasa, biasanya orang tua memiliki, paham dan menggunakan bahasa yang lebih halus, sedang anak telah kehilangan atau tak paham bahasa orang tuanya atau bahasa yang halus.

4. Kelas dan laboratorium ilmu agama

Kelas ini adalah kelas paling penting untuk mendasari semua kelas yang ada sekaligus untuk menjadi ruh dari kehidupan, kelas ilmu agama ini janganlah setengah-setengah, maksudnya adalah bila kita yakin bahwa agama merupakan pedoman kehidupan maka sebagai muslim kita haruslah bertujuan paling tinggi, yaitu memiliki pemikiran dan tindak tanduk seperti Al-Quran, tidak hanya menghafalnya akan tetapi juga harus memiliki pemahaman dan mengerti tafsirnya, fungsinya adalah anak didik akan memiliki dasar agama yang kuat untuk kehidupannya dan juga di terapkan dalam setiap keilmuan yang ada. Tujuan utama kelas ini adalah membuat Al-Quran hidup seperti nabi Muhammad SAW.

Dengan tujuan diatas maka langkah taktis yang dilakukan tentu satu pemahaman bersama akan pentingnya agama lalu dituangkan dalam pembelajaran yang selalu saja mengkorelasikan agama dalam setiap bidang keilmuan atau pun dalam mengkaitkan setiap kelas yang ada di sekolah, maksudnya saat kelas sepeti bahasa dan sosial maka harus di kaitkan dengan hukum islam dan nilai-nilai islam.

Untuk laboratorium agama sendiri, praktisnya bertujuan untuk melihat perkembangan, pemahaman, pergeseran dan perubahan keyakinan. Maksudnya adalah sebenarnya kita bisa melihat mengapa nilai-nilai agama itu bisa luntur oleh begitu banyak unsur yang komplek, dan kemudian mencoba untuk mengetahui alurnya, caranya yaitu melihat kadar pemahaman dan kemampuan masyarakat umum dan selalu mengawasi atau memantau bagaimana masyarakat merespon hal-hal yang mengintervensi keyakinannya. Semisal bagaiamana efek televisi terhadap keyakinan masyarakat, begitu banyak acara yang ditonton tentu akan mempengaruhi nilai-nilai yang ada pada masyarakat, ini adalah salah satu awal untuk bersikap total dan bermanfaat untuk masyarakat.

Selanjutnya semua itu paling tidak mencoba mendekat pada tujuan untuk siswa menjadi manusia yang selalu bermanfaat dalam menggunakan ilmunya untuk kepentingan masyarakat, karena tidak hanya melalui pemahaman akan tetapi aplikasi yang bersinggungan dengan masyarakat, sehingga keadaan sosial masyarakat benar-benar dirasakan oleh siswa dan semakin menajamkan kepedulian sosial siswa.

Catatan Pengasuhan

-Untuk pengasuhan sendiri saya sebagai anak berharap pengasuhan dengan kasih sayang sesuai nilai-nilai Islam diterapkan, ketegasan dan kedisiplinan adalah kunci dari sebuah perjuangan, maka dari itu pengasuhan yang masih tarik ulur mengenai hal-hal yang telah pasti akan lebih baik dikurangi, maksudnya adalah setiap hal yang telah diatur agama yang tentu saja bermanfaat akan lebih baik tidak ditarik ulur, seperti shalat wajib baik waktu dan suasananya.

-Untuk membuat pengasuhan agar semakin optimal,  saya mencoba untuk memberikan sebuah pendapat yaitu  budaya anak pasti bisa diatur, diarahkan dan bisa menjadi ciri khas dari sekolah asrama ini, sekaligus untuk memudahkan pengasuh untuk mengawasi dan bahkan meningkatkan kemampuan siswa, yaitu dengan budaya menulis. Budaya menulis disini maksudnya adalah siswa memiliki budaya menulis setiap hari untuk menceritakan apa yang dilakukannya setiap hari dan mengekspresikan apa yang dirasakannya.

Keuntungannya adalah pengasuh akan dapat paling tidak menganalisa apa yang sedang dirasakan oleh setiap anak dari tulisannya dan kemudian tahu bagaimana meresponnya setelah dipadukan dengan pemantauan sikap setiap harinya. Ini untuk melengkapi pemantauan terhadap anak, apalagi ini akan bermanfaat untuk membentuk budaya menulis siswa sehingga keahlian menulis sebagai kebutuhan dunia global ini terpenuhi. Kemudian bisa membuat matrik tulisan, matrik tulisan adalah catatan kuantitas dan kualitas tulisan sehingga setiap siswa bisa dipantau apakah telah menulis atau tidak,, lalu akan dapat diketahui secara pasti, berapa jumlah tulisan dan bagaimana perkembangan tulisan dari setiap siswa tersebut. Terakhir hal ini bisa menjadi bibit untuk membuat sekolah yang berkhas budaya menulis dan membentuk penulis-penulis yang bermanfaat untuk masyarakat.

Terlebih lagi ini bisa menjadi awalan untuk sekolah penulis sejak dini, mengingat dunia islam maupun Indonesia masih sangat kurang dalam persaingan dunia menulis, bahasa dan sastra adalah indikator dari peradaban suatu bangsa menurut levvi strausse, sehingga bila kita telah berusaha untuk membangun karakter penulis sejak dini, tentu kedepannya akan menjadi sebuah investasi yang sangat bermanfaat bagi Agama,Bangsa dan Negara.

Sebagai penutup dari tulisan ini, saya secara pribadi sangat menghargai apresiasi dari insane pendidikan yang sangat total dalam pengembangan pendidikan di Indonesia, sekali lagi tulisan ini hanyalah sebuah coretan pendapat dari saya yang sedang belajar ini, semoga saudara-saudara yang terhormat berkenan untuk memberikan evaluasi untuk saya secara langsung dan juga bisa pula dalam bentuk tulisan yang sama, terima kasih dari hati yang paling dalam untuk saudara-saudara yang berjuang demi umat dan kejayaan Islam, semoga Allah memberikan kemudahan dalam setiap langkah saudara-saudara.

*) Ilham Dwi Ridlo Wancoko mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan di Fakultas Sastra Program Studi Sastra Inggris